fbpx
Connect with us

Bacaan Seru

Jae Day6 Membagikan Pengalaman dan Opininya Tentang ‘Cancel Culture’ Saat Siaran Twitch

Published

on

jae day6

Cancel Culture Jae Day6, heynoona.com — Cancel culture atau call-out culture pasti sudah tak asing lagi bagi para pengguna aktif media sosial, khususnya bagi para penggemar K-pop yang aktif menjelajahi media sosial Twitter. Fenomena cancel culture sudah sangat mendunia. Khususnya dalam dunia K-pop, istilah ini digunakan ketika seseorang hendak mengungkapkan narasi yang bertujuan untuk mengekspos sikap dan tutur kata seorang idol yang dianggap bermasalah.

Mereka yang memiliki perilaku  problematic akan dilabeli sebagai idol yang ‘cancelled’, yang artinya kita harus berhenti memberikan dukungan kepada idol tersebut. Biasanya, seorang idol dianggap ‘cancelled’ ketika mereka bersikap tidak sopan, rasis, menyinggung agama atau orientasi seksual, dan hal serupa lainnya.

Salah satu idol yang mengalami cancel culture yaitu Park Jaehyung atau yang lebih dikenal sebagai Jae yang merupakan seorang gitaris sekaligus vokalis dari DAY6, band rock asal JYP Entertainment. Jae adalah K-pop idol yang dikenal aktif bermedia sosial, khususnya Twitter. Jae dikenal sebagai salah satu idol yang transparan kepada para penggemarnya. Ia sering kali membagikan opini, interest, keluhan, bahkan masalah kesehatan yang ia alami kepada penggemar melalui akun Twitter-nya @Jae_Day6. Jae juga sering kali menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan My Day, sebutan untuk penggemar DAY6.

Baca Juga:
5 Nama Idol Kpop Ini Banyak yang Sama
Bertalenta dan Sukses di Berbagai Bidang, Ini 24 Idol Kpop Kelahiran 1993!
Mudah Diingat, Inilah 8 Idol Kpop Dengan Stage Name Satu Huruf

Pada siaran langsung Twitch-nya yang berlangsung tanggal 17 November 2020, Jae bercerita bahwa ia sering kali mendapati tweet tentang bagaimana Jae adalah cancelled idol. “Aku sering mendengar hal itu,” ungkap Jae, “aku sering mendengar ucapan seperti ‘oh Jae sangat edgy sekarang’, ‘Jae sangat palsu’, ‘cancel Jae untuk hal ini’, ‘cancel Jae untuk hal itu’, ‘aku selalu membenci Jae. Semua temanku membenci Jae’. Dan aku berpikir – kenapa? Apa yang aku lakukan?”.

Jae kemudian membaca kolom live chat dan membaca jawaban salah seorang penonton yang berbunyi, “sepertinya karena kamu sarkas.” Ungkapan tersebut kemudian ditanggapi oleh Jae, “aku tidak tahu. Aku memang sedikit sarkas. Apakah itu tidak sopan – sepertinya iya”.

Jae juga menceritakan tentang salah satu tweet yang sangat membekas bagi dirinya. Tweet tersebut berisikan ungkapan bahwa orang tersebut lebih menyukai ketika Jae berbicara bahasa Korea, karena Jae tidak akan mengungkapkan banyak opini seperti ketika ia berbicara menggunakan bahasa Inggris.

“Kamu tahu? Aku pernah membaca tweet yang berbunyi ‘aku lebih suka ketika ia berbicara bahasa Korea, karena ia lebih sedikit beropini,’ gila bukan? Itu mengejutkanku. Wow. Apa kini aku tidak boleh memiliki opini?” ungkapnya. “Tampaknya kini aku tidak boleh memiliki opini. Sekarang opini adalah kejahatan yang harus dilarang dan dihentikan.”

Cancelling pada media sosial biasanya memiliki pola yang serupa, “seseorang membuat post tentang sesuatu, kemudian orang lain akan mulai bertanya ‘apa yang terjadi?’. Dari situ, orang akan mulai menyebarkan informasi tersebut, namun dengan detail yang diubah dan disalahartikan,” jelas Jae.

Pada siarannya yang berlangsung selama 47 menit itu, Jae mengungkapkan pendapatnya tentang cancel culture. Menurutnya, cancel culture merupakan perilaku yang telah dianggap wajar oleh generasi muda.

“Menurutku, generasi muda kini mulai merasa bahwa itu adalah perilaku yang normal. Bahwa tidak apa-apa untuk kita bersikap demikian di dunia maya. Karena mereka telah banyak melihat pelaku-pelaku sebelumnya yang bisa lolos begitu saja.”

Opini tersebut kemudian disambung dengan peringatan dari Jae bahwa dalam bermedia sosial, kita harus berhati-hati dalam mengungkapkan sesuatu. Bahayanya lagi, kita bisa saja kehilangan kesempatan kerja dan merusak citra diri karena bagaimana kita bersikap di media sosial.

“Mungkin usia mereka kini sekitar 14, 15, 12, atau mungkin 20, 30 tahun. Tapi apa yang akan terjadi di 10 tahun kedepan ketika mereka berusaha mencari kerja di usia 22, 25, 26, 30 tahun? Mereka memiliki riwayat perilaku buruk yang luar biasa, terpampang jelas di akun media sosial mereka. Apa yang akan terjadi?”

Jae berharap semua orang dapat memahami bahwa manusia tidaklah sempurna. Tetapi, kita tentu bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. 

“Pada akhirnya, aku hanya berharap semua orang dapat mulai memahami bahwa tidak semua manusia sempurna. Kamu paham maksudku? Kau mungkin tidak sempurna. Aku tidak sempurna – sungguh tidak sempurna. Terkadang aku payah dalam menjalani tugasku sebagai manusia. Tetapi kita bisa berubah menjadi lebih baik.”

Penulis: ara

Leave your vote

Comments

0 comments

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Suka

Copyright HeyNoona © 2021. All rights reserved.

Log In

Or with username:

Forgot password?

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.